Gerakan Humanitas Pendidikan Pelosok

Foto. Sulbarmu.com. : Proses Pembelajaran Anak Plosok Yang didamlingi Kader IMM Mamuju, Rabu, 09 September 2020.


SULBARMU.COM, MAMUJU.-- Persoalan pendidikan di Indonesia masih menjadi masalah yang serius saat ini, apa lagi lembaga pendidikan yang ada masih terbilang dibawah kelayakan dan standar dari proses pembelajaran di akibatkan beberapa faktor yang menjadi penghalang siswa untuk dapat berkreasi sebagaimana mestinya.

Misalnya, sebut saja persoalan ekonomi rumah tangga yang menjadi faktor sangat berpengaruh dalam keberlangsungan proses pendidikan anak, sehingga dampaknya sangat dirasaakan bagi masyarakat dari kalangan menegah kebawah. Jika dibandingkan dengan negara-negara lain, tentu pendidikan Indonesia menempati posisi yang terendah, bahkan Indonesia masih berada dibawah Negara Vietnam.

Pekerjaan pemerintah tentu tidak mudah, pemerataan pendidikan masih belum dirasahkan oleh masyarakat Indonesai, hanya segelintiran orang saja yang menikarinya, khususnya mereka yang memang tinggal di daerah perkotaan, bagi rumah warga yang jauh dari pusat kota dan terlebih lagi jahu dari sekolah, menjadi tantangan bagi orang tua. Bukan hanya itu, sekolah yang terpencil mengalami masalah yakni kekurangan tenaga pendidik (guru).

Belum lagi saat ini akibat musibah pandemi covid-19, semakin menabah penderitaan peserta didik dalam hal proses pembelajaran yang disyaratkan untuk mengkases jaringan (tekhnologi) agar bisa mengikuti proses pembelajaran. Hal ini tentu memaksa tenaga pendidik (guru) dan siswa untuk belajar dengan memanfaatkan tekhnologi. Bukan mengatakan ini hal yang tidak baik, tetapi tentu persiapan dan kesiapan guru atau siswa menjadi pertimbangan yang harus diperhatikan sebagai upaya efektifitas dan keaktifan proses pembalajaran daring (dalam jaringan) di setiap tingkat satuan pendidikan.

Apalagi khusus di Mamuju, masih banyak sekolah berada di pelosok yang tidak terjangkau oleh jaringan, mungkin sekolah yang berada dipinggir kota maupun pusat kota, sangat mudah dalam proses pembelajaran sebab jangkauan jaringan sangat memudahkan belajar dengan sistem online, tapi bagaimana nasib sekolah yang ada di pelosok, yang akses jalan dan jaringan tidak ada, jika ingin disamakan, bagaikan penyakit yang tinggal menunggu waktu untuk membunuh mereka.

Melihat fenomena diatas, tentu butuh solusi dan uluran tangan dari semua pihak, sehingga peran-peran dakwah dapat terealisasikan secara menyeluruh, olehnya itu pimpinan cabang IMM Mamuju mencoba mengambil inisiatif untuk sedikit membantu, meringankan dan merasakan secara langsung, turun langsung dengan melakukan pendampingan pembelajaran disalah satu sekolah yang ada di pelosok desa di Kabupaten Mamuju.

Pendampingan pembelajaran merupakan bahagian dari tugas dan tanggung jawab kader apalagi dimasa pandemi ini tentu gerakan humanitas dari kalangan organisasi gerakan diharapkan dapat meringankan beban pemerintah dalam mengatasi persoalan covid melalui pendidikan.

IMM menilai regulasi yang dibebankan kepada lembaga pendidikan berkaitan kebijakan proses pembelajaran secara daring dimasa pandemi ini, hanya terpusat pada daerah perkotaan saja, sehingga wilayah pinggir kota dan pelosok desa termarginalkan, belum lagi dampak yang ditimbulkan akibat proses pembelajaran daring ini, mulai dari keluhan dari orang tua siswa yang mengeluhkan akan sulitnya metode pembelajaran yang diterapkan guru-guru bahkan sampai pada hilangnya nilai integritas siswa akibat kurang kontrol pemakaian android dikeranakan kesibukan dari orang tuanya.

Dari kejadian diatas merespon solusi yang dikeluarkan oleh pemerintah dalam menyelesaikan persoalan pendidikan olehnya itu, masalah ini menjadi pembahasan yang cukup serius di kalangan kader IMM.
IMM berharap kepada pemerintah pusat dan khususnya daerah lebih pro aktif dalam menuntaskan masalah pendidikan. Apalagi dalam masa transisi perintahan dan dalam menghadapi kontestasi pemilukada yang akan datang.  Siapapun yang akan menjadi Nahkoda, Mamuju kedepan tentu inilah menjadi tugas dan tanggung jawab pemerintah, karena masalah pendidikan dipelosok tidak akan selesai jika pemerintah masih pasif dalam menyelesaikan masalah ini, sebab maju dan tidaknya suatu negara bahkan daerah itu ditopang semakin baiknya kulitas pendidikannya.
 
IMM berharap sebisa mungkin menuntaskan persoalan ini, sedikitnya ada dua solusi yang ditawarkan, pertama dari segi kebijkan tingkatkan pemerataan pendidikan, baik itu dari segi sarana dan prasarana maupun dari tenaga pendidikannya, sebab masih banyak sekolah yang bangunanya dalam kondisi tidak layak juga alokasi tenaga pendidiknya tidak merata. Kedua pengalokasian dana pendidikan harus tepat sasaran, yang memang betul-betul membutuhkan jangan hanya itu-itu saja yang menerima yang lainnya terabaikan, paling penting adalah kesejahteraan tenaga pendidik harus diperhatikan sebab banyak guru yang mengeluh.




Penulis. : Mursalim
Editor.   : Ilham Usman

Post a Comment

0 Comments