Rencana Alam Bukan Bencana Alam, (Bencana Itu Pristiwa Alam)

Opini : Immawan A. Muhammad Nur Alam
(Ketua Pimpinan Komisariat IMM Pembangunan, STIE Muhammadiyah Mamuju).

SULBARMU.COM, MAMUJU.-- Memasuki awal tahun 2020 tentu setiap orang masing-masing memiliki harapan yang baik bagai kehidupannya, namun setiap rencana yang telah dibuat belum tentu sesuai apa yang menjadi keinginanya, ketika seseorang berencana sesunguhnya tuhan yang memiliki kemampuan untuk mewujudkannya, sebab tidak ada daya dan upaya yang bisa dilakukan kecuali atas kehendak darinya.

Beberapa waktu yang lalu bangsa Indonesia diberikan ujian dan cobaan dari musibah banjir yang terjadi di beberapa daerah di negeri ini, seperti Jabodetabek, Jawa Barat, Banten, Sulawesi Selatan (Sulsel) dan terakhir Jawa Timur yang tidak sedikit menelan korban jiwa, harta dan tempat tinggal dari bencana tersebut, tentu sebagai warga negara yang terikat atas nama persatuan dan kemanusiaan turut berduka dan berbelasungkawa dari kejadian yang menimpa saudara-saudara setanah air.

Namun menariknya, bencana alam banjir oleh sebagian kelompok orang dijadikan sebagai komoditas politik untuk menjatuhkan salah satu pemimpin dinegeri ini, padahal ini merupakan pola pikir lama kolot yang dicampur dengan politik kebencian dan tidak rasional jika dilihat dari meratanya musibah yang terjadi dinegeri ini.

Dulu bencana ini dikaitkan dengan kemarahan Tuhan atas dosa-dosa manusia, sehingga agar tidak terjadi bencana maka manusia diharuskan menjaga perilakunya, tidak melakukan hal-hal yang dapat membuat Tuhan murka. Bahkan ada juga diharuskan membuat Tuhan senang dengan memberikan sesaji atau melakukan ritual tertentu.

Kemudian terjadi pergeseran dengan menggunakan pendekatan ilmiah, sesungguhnya banjir, angin kencang, gempa bumi, tanah longsor dan sebagainya, itu memang dari perilaku tangan-tangan jail dari sebagian kelompok orang yang tidak menjaga keseimbangan alam, merusak kelestarian alam demi kepentingan pribadinya, sehingga kestabilan dan originalitas dari alam tidak terjaga, yang kemudian apabila musim penghujan telah tiba, tadinya pembawa berkah berubah menjadi musibah.

Apa yang sebenarnya terjadi?

Mari merenung dan berfikir apa itu bencana.
dalam kamus besar bahasa Indonesia (KBBI) bencana adalah sesuatu yang menyebabkan (menimbulkan) kesusahan, kerugian dan penderitaan. Ketika hujan turun sangat lebat disebuah Pulau dan kemudian menimbulkan banjir dan tanah longsor, apakah bisa menyebutnya bencana ketika pulau itu kosong, tentu tidak, jika Pulau tersebut tak berpenghuni, kejadian dahsyat itu tidak disebut bencana. Sehingga banjir, gempa bumi, letusan gunung, tanah longsor dan sebagainya itu tidak disebut bencana ketika manusia belum ada Hanya peristiwa alam biasa atau fenomena alam.

Yang terjadi sekarang bukanlah hal yang berbeda, sama seperti kejadian-kejadian dimasa lalu, bumi sedang bekerja memproses dirinya. Hanya saja permukaannya kini dipenuhi manusia, bumi sendiri tidak peduli dengan fakta itu, Ia harus terus bekerja sesuai hukum yang ia patuhi. Jadi berbagai bencana itu bukan dibuat khusus untuk manusia. Manusialah yang salah tempat berada di tempat kejadian yang tak menyenangkan bagi dirinya. "Itu sesederhana seperti hujan turun dan kebetulan kita sedang berada di luar rumah, maka itu adalah kesialan bagi kita. Kalau kita sedang berada di dalam rumah, hujan itu bukan masalah bagi kita".

Adapun perbuatan manusia jika tidak menjaga kelestarian alam atau bahkan merusaknya, alam yang akan menghukumnya, sesungguhnya hukum alam adalah hukum tuhan dan hukum tuhan berlalu dari perbuatan hambanya, itulah siklus yang saling berhubungan dan menrupakan kepastian bagi orang-orang yang berfikir.

"Pemimpin itu prodak dari rakyat sebab ia berasal dari rakyat, sangat tak etis jika kita mempolitisasi atas dasar kebencian, seharusnya yang mesti kita lakukan mengkritisi dengan pola perbaikan memberikan solusi. Sudah tentu jika prodak dari hasil kecurangan maka akan membawa malapetaka bagi negara dan daerah, tugas kita melihat, mencermati, mengawal dan paling penting mengisi kemerdekaan dengan mengambil semangat para pejuang atas dasar pengabdian".

Mamuju, 21 Januari 2020.



Penulis. : Immawan A. Muhammad Nur Alam
Editor.   : Admin Sulbarmu.com 

Post a Comment

0 Comments