Kembalikan Spirit Kepribadian Muhammadiyah, Pesan Irvan Mawardi

Foto : Ketua Devisi Advokasi MPM Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Irvan Mawardi, SH.,MH, di Masjid Fastabikhul Khairat, Mamuju, Minggu 26 Januari 2020.

SULBARMU.COM, MAMUJU.-- "Ada dua nikmat yang membuat manusia terlena, yakni Kesehatan dan waktu luang," Ucap Irvan Mawardi, Ketua Devisi Advokasi MPM Pimpinan Pusat Muhammadiyah saat mengisi pengajian subuh program Majelis Tabligh Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Mamuju, di Masjid Fastabikhul Khairat, Pusat Dakwah Islam Muhammadiyah (Pusdim), Minggu (26/01/2020).

Ia memaparkan ketika engaku gagal dalam memanfaatkan waktu luangmu maka akan cepat dalam kegagalan dan cepat dalam kematian. pasca meninggalnya kyai yunahar ini merupakan refleksi bagi diri sendiri dan warga muhammadiyah untuk manfaatkan waktu luang dan kesehatan, sebab ajal dan kematian tiba, itu ada penyebabnya yaitu dari segi kesehatan, terus terang susah mencarikan pengganti bagi warga muhammadiyah untuk seperti sosok Pak Kyai Yunahar. Salah satu yang memicu Pak Amin Rais itu sehat sampai sekarang itu adalah puasa daudnya yang bertahun-tahun dan sampai sekarang.

"Saya terkadang mau mengikuti pola yang digunakan oleh pak Amin, namun hanya bisa sedikit yang bisa saya ikuti dari beliau. Dan sekarang pun sangat susah mencari figur yang sekelas pak Amin Rais dari segi keabngsaannya yang ikut andil dalam perpolitikan sejak awal reformasi sampai sekarang," tutur Irvan

Selanjutnya dalam pengajian Ia Membahas Muhammadiyah hari ini menjadi organisasi besar merupakan bagian kesyukuran, wajar bila banyak tantangan muhamamdiyah baik internal maupun eksternal. Internalnya yaitu terkikisnya nilai-nilai persaudaraan, eksternalnya dapat mempertanggungjawabkan baik dikanca Nasional dan Internasional.
ini bagian dari kesukuran.

"kita harus menjaga prinsip-prinsip profesionalitas dan integritas", akunya.

Dalam perkembangan Muhammadiyah, kembali mengingatkan pada KH. Faqih Usman yang merumuskan kepribadian muhammadiyah. Salah satu penyebab sehingga dirumuskannya kepribadian muhammadiyah itu adalah refleksi kecenderungan warga muhammadiyah dalam persyarikatan itu bermegah-megahan dalam keduniaan, yang tertuang dalam surah At-takathur.

"Saya merasakan itu, karena amal usaha kita itu luar biasa besarnya, kalau tidak salah pesantren kita lebih dari tiga ratus, perguruan tinggi kita secara kuantitas menurun tetapi secara kualitas meningkat, dari 170 lebih menjadi 160 an, belum lagi rumah sakit, SMA, SMK, SMP, SD, Taman Kanak-kanak, Masjid dan Panti Asuhan Muhammadiyah yang jumlahnya banyak,"ujar Irvan.

Kemudian di tengah kemajuan itu, diingatkan kembali pada kepribadian muhammadiyah bahwa semua itu adalah amanah dari Allah, yang jangan sampai terjebak pada kemegahan yang melalikan, sehingga keterjebakan itu menjurus pada disharmoni antara sesama warga muhammaidyah, dan pada akhirnya ketika keluar dianggap orang yang tidak bertanggung jawab, tidak profesional dan sebagainya.

"Saya kira itu tantangan kita, jadi dibalik kemegahan itu, justru yang perlu dibangun adalah ketawadduan, kesederhanaan, dan menganggap ini adalah bagian dari amanah yang suatu saat pasti akan kita lepaskan dan dimintaki pertanggungjawaban," imbuhnya.

Jika harus dibayar secara profesional itu memang ia. Tetapi konsep hidup-hidupilah Muhammadiyah itu adalah engkau hidupkan Muhamadiyah ditengah profesionalismemu bekerja di Muhammadiyah, jangan sampai kemewahan yang didapatkan di muhammadiyah itu membuat terjebak pada hal-hal yang tidak produktif di Muhamamdiyah.

"Saya berkata begini karena muhamamdiyah di Sulawesi Barat ini masih muda, momentum ini harus kita bangun kesolidan, kekompakan, sinergitas dalam struktur pimpinan dan sesama warga muhamamdiyah, karena ini nanti menjadi legacy atau sejarah warisan yang baik bagi penerusnya kedepan bukan menjadi sejarah kelam," tegasnya.




Editor. : Admin Sulbarmu.com

Post a Comment

0 Comments