Mari Perpendek Masa Penderitaan Kita, Pesan Prof. M. sayuti


Foto : Sekretaris Majelis Diktilitbang Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Prof. Muhammad Sayuti, M.Pd.,M.Ed.,Ph.D, bersama Badan Pengurus Harian (BPH) Ir. H. Nur Parantean dan Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Muhammadiyah Mamuju, Muchtar Baso, M.Si, Saat Menghadiri acara Rapat Kerja Kampus, di Jalan Baharuddin Lopa, Aula Kampus dua STIE Muhammadiyah Mamuju, Selasa 27 Agustus 2019.


SULBARMU.COM, MAMUJU.-- "Saya sudah berkeliling dari tempat satu ke tempat yang lain, jadi saya tidak langsung besar seperti sekarang, tetapi melalui proses jatuh bangun. Jadi saya mengajak Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Muhammdiyah Mamuju mari kita perpendek masa penderitaan kita dengan menambah jumlah mahasiswa kita, satu-satunya cara berubah bentuk dari Sekolah Tinggi ke Universitas, terus menambah Program Studi (prodi)," Ucap Prof Muhammad Sayuti, M.Pd.,M.Ed.,Ph.D, selaku Sekretaris Majelis Diktilitbang Pimpinan Pusat Muhammadiyah, saat menyampaikan sambutannya pada acara rapat kerja bertempat di Aula Kamlus dua STIE Muhammadiyah Mamuju, Selasa (27/08/2019).

Pilih mana pusing mengurusi mahasiswa yang jumlahnya 2.500 orang atau pusing mengurusi mahasiswa 27.000, memang sama-sama pusing tapi mana yang lebih nikmat pusingnya. Jadi mari kita perpendek masa pusing, satu-satunya cara dengan menambah jumblah mahasiswa dengan menambah prodi dan berubah bentuk, tidak ada pilihan yang lain, tambahnya.

Prof Sayuti menceritakan kisah nyata kampus yang sama-sama Universitas yang berdiri sejak tahun 1955 akreditasi institusinya B dan ada juga kampus yang berdiri ditahun 2004 akreditasi institusinya B juga, terus apa yang membedakan jarak waktu yang begitu jauh tetapi sudah setara, kampus yang berdiri di tahun 2004 dengan jangka waktu sekitar 15 tahun namun sudah setara dengan kampus yang berdiri sudah lama. Perlu di sampaikan yang membedakan adalah tatakelolanya, dengan kesungguhan dan kerja keras bisa memperpendek penderitaan.

"Perguruan Tinggi Muhammadiyah sudah 164 sampai saat ini, jumlah dosen Muhammadiyah 15.900 orang, yang doktor ada 1819 orang tiap tahun naik, dengan total jumlah mahasiswa 531.000 orang se Indonesia, kemudian jumlah program studinya 1665 yang tiap harinya selalu bertambah," Akunya.

Jadi dari sekarang harus dirancang, jika mau membuka program IT (Information and technology) kampus harus mengsekolahkan, kampus-kampus yang besar itu juga menggunakan metode seperti ini, tambahnya.

Lebih lanjut ia memaparkan mengapa amal sholeh dan kerja keras di kampus itu penting, karena mengelola kampus itu mengelola tras yakni mengelola kepercayaan masyarakat, 

"Saya selalu promosikan keluar apa yang membedakan perguruan tinggi Muhammadiyah dengan Negeri, kalu perguruan tinggi Muhmamdiyah tidak hanya bersekolah, tetapi beramal jahiriah, karena uang pembangunan itu kita jadikan kampus, masjid, pondok pesantren, panti asuhan," Katanya.

Setelah motivasi beramal sholeh, tatakelola yang baik yang berikutnya adalah budaya mutu, harus ditradisikan dari sekarang, kampus-kampus yang baik itu ketika dosennya membicarkan proposal penelitian, proposal hibah dan mengajar dengan baik. Budaya mutu ini dibangun dari raker ini, menetapkan target dan ini memang butuh waktu. 

"Berdebatlah sekeras-kerasnya dalam raker ini, tetapi ketika diputuskan maka sami'na waato'na," Pesan Prof. Muhammad Sayuti, M.Pd.,M.Ed.,Ph.D



Reporter :Immawan Ilham
Editor.     : Admin Sulbarmu.com

Post a Comment

0 Comments