Tuntunan Ibadah Qurban, Oleh Ustadz Furqan Mawardi



Foto : Ustadz Furqan Mawardi, M.Pi, Wakil Ketua Empat Bidang Al-Islam Kemuhammadiyaan Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Muhammadiyah Mamuju

SULBARMU.COM, MAMUJU -- Secara bahasa, kata qurban berasal dari kata qarraba, yuqarribu, qurbanan, artinya pendekatan diri. Menurut istilah, qurban ialah menyembelih hewan qurban pada hari nahr dan hari tasyriq, dengan niat untuk mendekatkan diri kepada Allah swt dan realisasi rasa syukur atas nikmat yang diberikan oleh Allah Swt. 

Selain nama qurban, juga ada istilah Udhiyyah, defenisinya adalah As-Sayyid Sabiq di dalam kitabnya “ Fiqh Sunnah “ memberikan defenisi Udh-hiyyah adalah: الاضحية والضحية :

إِسْمٌ لِمَا يُذْبَحُ مِنَ الإِبِلِ وَالبَقَرِ وَالغَنَمِ يَوْمَ النَّحْرِ وَأَيَّامِ التَّشْرِيْقِ تَقَرُّبًا إِلَى اللهِ تَعَالَى.

“ Udhhiyyah atau dhohiyyah adalah: Nama dari hewan yang disembelih , baik berupa unta, sapi maupun kambing, pada hari raya qurban dan hari-hari tasyriq, dengan niat untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt”. Adapun dasar di syariatkannya qurban, firman Allah Swt di surah Al Kautsar

( إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ (١) فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ (٢) إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الأبْتَرُ (٣)

Artinya, "Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah sholat karena Tuhanmu dan berqurbanlah, sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu, dialah yang terputus,”. Di Surah Lain Allah Swt  berfirman.

( وَالْبُدْنَ جَعَلْنَاهَا لَكُمْ مِنْ شَعَائِرِ اللَّهِ لَكُمْ فِيهَا خَيْرٌ ... )

Artinya, “Dan telah Kami jadikan untuk kamu unta-unta itu sebahagian dari syiar Allah, kamu memperoleh kebaikan yang banyak padanya," Surah Al-Hajj ayat 36. Adanya tuntunan dari Rasulullah Saw, bahwa beliau selalu berqurban, sehingga di hari raya qurban, tidak ada amal perbuatan yang pahalanya melebihi dari melaksanakan qurban.

Diriwayatkan dari ‘Aisyah ra, tentang keutammaan Qurban bahwa Rasulullah Muhammad Saw bersabda,

مَا عَمِلَ آدَمِيٌّ مِنْ عَمَلٍ يَوْمَ النَّحْرِ أَحَبَّ إِلَى اللهِ مِنْ إِهْرَاقِ الدَّمِ ( إِسَـالَتِهِ أَيْ ذَبْحِ الأُضْحِيَةِ ) إِنَّهَا لَتَأْتِي يَوْمَ القِيَامَةِ بِقُرُوْنِهَا وَأَشْعَارِهَـا وَأَظْلاَفِهَا، وَإِنَّ الدَّمَ لَيَقَعُ مِنَ اللهِ بِمَكَانٍ (كِنَايَةً عَنْ سُرْعَةِ قُبُوْلِهَا) قَبْلَ أَنْ يَقَعَ عَلَى الأَرْضِ، فَطِيْبُوْا بِهَا نَفْسًا ). رواه الترمذي

Artinya, “Tidak ada amalan yang lebih dicintai oleh Allah pada hari raya Qurban, dari mengalirkan darah, sesungguhnya dia akan datang di hari kiamat dengan tanduk-tanduk, bulu-bulu dan kuku-kukunya, dan sesungguhnya darahnya akan sampai kepada Allah sebelum jatuh ke tanah, maka hendaknya setiap jiwa bergembira atas hal itu. (HR At-Tirmidzi). Terkait hukum qurban, para ulama berbeda pendapat, pertama hukumnya wajib bagi yang mampu. Hal ini didasarkan oleh firman Allah di surah Al Kautsar

( إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ (١) فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ (٢) إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الأبْتَرُ (٣)

“Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah sholat karena Tuhanmu dan berqurbanlah, sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu, dialah yang terputus". Makna perintah pada ayat kedua dengan kalimat “wanhar”(  وَانْحَرْ) adalah kalimat perintah fiil amr, yang menjadikan syariat qurban adalah bukan anjuran akan tetapi perintah. Dasar kaidah ushul fiqhnya adalah :

اَلْأَ صْلُ فىِ اْلأَمْرِ لِلْوُجُوْبِ

“Asal dari semua bentuk perintah adalah menunjukkan kewajiban ”. Hadit riwayat dari Jundub bin Sufyan bahwa Nabi Saw bersabda:

( .... مَنْ ذَبَحَ قَبْلَ أَنْ يُصَلِّيَ فَلْيُعِدْ مَكَانَهَا أُخْرَى، وَ مَنْ لَمْ يَذْبَحْ فَلْيَذْبَحْ )  

“Siapa yang menyembelih sebelum sholat maka hendaknya mengganti dengan yang lain, dan siapa yang belum menyembelih, segeralah untuk menyembelih,"(HR.  Al-Bukhori dan Muslim). Sementara Ancaman bagi orang yang Mampu namun Tidak Berqurban. Hadits riwayat dari Abu Huroiroh ra, bahwa Rasulullah Saw bersabda:

( مَنْ كَانَ لَهُ سَعَةً وَ لَمْ يُضَحِّ فَلاَ يَقْرَبَنَّ مُصَلاَّنَا ) 

“Siapa yang memiliki keluasan atau kemudahan dan tidak berqurban, maka janganlah mendekati tempat sholat kita,"(HR. Ibn Majah, Ahmad, Al-Hakim). Kalimat فَلاَ يَقْرَبَنَّ (falaa yaqrabanna) adalah sebuah  penegasan nabi kepada orang orang yang punya keluasan berkurban, namun tidak berkurban. Beliau melarang kepada orang tersebut untuk tidak mendekati tempat sholat bersama Nabi. Hal inilah yang menjadikan alasan wajibnya berqurban bagi yang mampu.

Kedua hukum qurban itu, Sunnah Muakkadah, bukan wajib. Hal ini berdasarkan beberapa hadits, misalnya hadits riwayat dari Um Salamah ra, bahwa Nabi Saw bersabda:

( إِذَا رَأَيْتُمْ هِلاَلَ ذِي الحِجَّةِ وَأَرَادَ أَحَدُكُمْ أَنْ يُضَحِّيَ فَلْيُمْسِكْ عَنْ شَعْرِهِ وَأَظْفَارِهِ ). 

“Apabila kalian melihat hilal Dzul-Hijjah, dan salah seorang dari kalian berniat ingin berqurban, hendaknya dia tidak memotong rambut dan kukunya”. (HR. Muslim).

Hadis Nabi tidak ada penegasan bahwa adanya kewajiban, hanya bagi yag berniat dan mampu. Selain itu juga para sahabat diantaranya Abu bakar dan Umar bin Kattab pernah tidak berqurban

رَأَيْتُ أَبَا بَكْــــــــرٍ وَعُـــــــمَـرَ وَمَــــــــا يُضَحِّــــــــيَانِ .

Diriwayatkan bahwa Abu Bakar dan Umar pernah tidak berqurban, karena khawatir di anggap suatu ibadah yang wajib. Adapau Jenis dan usia hewan qurban, Allah Swt berfirman yang artinya, "Dan bagi setiap umat Kami berikan tuntunan berqurban agar kalian mengingat nama Allah atas rezki yang dilimpahkan kepada kalian berupa hewan-hewan ternak (bahiimatul an’aam),” (QS. Al Hajj: 34). 

Hewan qurban hanya boleh dari Bahiimatul Al An’aam (hewan ternak tertentu)  yaitu Onta, Sapi atau Kambing. Bahkan sebagian ulama menukilkan adanya ijma’ (kesepakatan, bahwasanya qurban tidak sah kecuali dengan hewan-hewan tersebut ( Shahih Fiqih Sunnah, II/369 dan Al Wajiz 406). Kemudian Usia binatang yang bisa dijadikan Qurban antara lain, Unta umur lima tahun, Sapi umur dua tahun dan Kambing umur satu tahun. Sementara Ketentuan Hewan Qurban Kambing satu ekor, cukup untuk qurban satu keluarga, pahalanya mencakup seluruh anggota keluarga meskipun jumlahnya banyak atau bahkan yang sudah meninggal dunia. Sebagaimana hadits Abu Ayyub  yang mengatakan, “Pada masa Rasulullah Saw, seseorang suami menyembelih seekor kambing sebagai qurban bagi dirinya dan keluarganya," (HR.Tirmidzi ).

Bahkan Nabi saw berqurban untuk dirinya dan seluruh umatnya. Suatu ketika beliau hendak menyembelih kambing qurban, Sebelum menyembelih beliau mengatakan, ”Yaa Allah ini qurban dariku dan dari umatku yang tidak berqurban,” (HR. Abu Daud  & Al Hakim). 

Unta dan Sapi satu ekor dijadikan qurban untuk tujuh orang. Dari Jabir bin Abdullah, berkata, “Kami berqurban bersama Rasulullah SAW di tahun Hudaibiyah, unta untuk tujuh orang dan sapi untuk tujuh orang," (HR Muslim). Dalam masalah pahala, ketentuan qurban sapi sama dengan ketentuan qurban kambing. Artinya urunan 7 orang untuk qurban seekor sapi, pahalanya mencakup seluruh anggota keluarga dari 7 orang yang ikut urunan.

Dari Anas bin Malik ra, berkata Rasulullah Saw bersabda tentang Waktu Penyembelihan,

أنس بن مالك، قال: قال النّبيّ: 

( مَنْ ذَبَحَ قَبْلَ الصَّلاَةِ فَإِنَّمَا ذَبَحَ لِنَفْسِهِ، وَمَنْ ذَبَحَ بَعْدَ الصَّـلاَةِ فَقَدْ تَمَّ نُسُـكَهُ، وَ أَصَـابَ سُنَّةَ المُسْـلِمِيْنَ ). 

Artinya, “Siapa yang menyembelih sebelum sholat, maka sesungguhnya dia telah menyembelih untuk dirinya sendiri, dan siapa yang menyembelih setelah sholat, maka telah sempurnalah ibadah qurbannya dan mendapatkan sunnahnya kaum muslimin,” (HR. Bukhari Muslim).

عَنِ الْبَرَاءِ بْنِ عَازِبٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم-: 

« إِنَّ أَوَّلَ مَا نَبْدَأُ بِهِ فِى يَوْمِنَا هَذَا نُصَلِّى ثُمَّ نَرْجِعُ فَنَنْحَأَصَابَ سُنَّتَنَا وَمَنْ ذَبَحَ فَإِنَّمَا هُوَ لَحْمٌ قَدَّمَهُ لأَهْلِهِ لَيْسَ مِنَ النُّسُكِ فِى شَىْءٍ ». 

Kemudian Dari Al-Barroo’ dari Nabi Saw, beliau bersabda yang artinya, “Sesungguhnya yang pertama kita lakukan di hari ( id ) ini adalah sholat, kemudian pulang lalu menyembelih qurban, maka siapa yang melakukan seperti itu sudah mendapatkan sunnah kita, dan siapa yang menyembelih sebelumnya maka merupakan daging yang diperuntukkan keluarganya, dan sama sekali tidak ada kaitannya dengan qurban," (HR. Bukhari Muslim).

Hewan yang tidak sah menjadi qurban ada empat yaitu, Al-‘Auroo’  matanya cacat  berat, atau  buta, Al-Maridh yang sakit berat, Al-‘Urjaa’ yang jelas pincangnya, termasuk yang  terpotong kakinya dan Al-‘Ajfaa’ yang sangat kurus, kadang sampai hilang otaknya. Pemanfaatan hasil sembelihan bagi pemilik hewan qurban dibolehkan memanfaatkan daging qurbannya dengan syarat, pertama dimakan sendiri dan keluarganya, bahkan sebagian ulama menyatakan shohibul qurban wajib makan bagian hewan qurbannya. Termasuk dalam hal ini adalah berqurban karena nadzar menurut pendapat yang benar. Kedua disedekahkan kepada orang yang membutuhkan dan yang terakhir disimpan untuk bahan makanan di lain hari. Sebagaimana Sabda Nabi saw :

كُـــــلُوْا وَأَطْعِـــــمُوْا وَادَّخِـــــرُوْا  

 Artinya, “Makanlah, berilah makan kepada orang lain yang membutuhkan dan simpanlah,"(HR. Bukhari Muslim). Sementara Larangan Memperjual belikan hasil sembelihan baik daging, kulit, kepala, teklek, bulu, tulang maupun bagian yang lainnya. Ali bin Abi Thalib mengatakan, “Rasulullah memerintahkan aku untuk mengurusi penyembelihan onta qurbannya. Beliau juga memerintahkan saya untuk membagikan semua kulit tubuh serta kulit punggungnya. Dan saya tidak diperbolehkan memberikan bagian apapundarinya kepada jagal,"(HR. Bukhari dan Muslim). Bahkan terdapat ancaman keras dalam masalah ini :

مَنْ بَاعَ جِلْدَ أُضْحِيَّتِهِ فَلاَ أُضْحِيَّةَ لَهُ

Dari Abu Hurairah, Rasulullah  bersabda,  “Barang siapa yang menjual kulit hewan qurbannya maka ibadah qurbannya tidak ada nilainya,"(HR. Al Hakim & Al Baihaqi). Termasuk memperjual-belikan bagian hewan qurban adalah menukar kulit atau kepala dengan daging atau menjual kulit untuk kemudian dibelikan kambing. Karena hakekat jual-beli adalah tukar-menukar meskipun dengan selain uang. Bagi orang yang menerima kulit dibolehkan memanfaatkan kulit sesuai keinginannya, baik dijual maupun untuk pemanfaatan lainnya, karena ini sudah menjadi haknya. Sedangkan menjual kulit yang dilarang adalah menjual kulit sebelum dibagikan disedekahkan, baik yang dilakukan panitia maupun shohibul qurban.


Editor : Admin Sulbarmu.com

Post a Comment

0 Comments