Hati-Hati Istidraj, Pesan Kiyai Wahyun Mawardi

Foto : Ketua Wilayah Muhammadiyah Sulawesi Barat, Kiyai Wahyun Mawardi, Saat menyampaikan Khutbahnya di Masjid Fastabuqul Khairat Jalan Soekarno Hatta, Jumat 05 Juli 2019


Sulbarmu.Com -- Ketua Wilayah Muhammadiyah Sulawesi Barat, Kiyai Wahyun Mawardi, M.Pd, menyampaikan hati-hati dengan Istidraj dan imlaa, sebab itu merupakan dosa dan azab yang diulur-ulur oleh Allah Swt.

"Begitu bahayanya istidraj sampai-sampai Ummar Bin Khattab pernah berdoa, ya Allah sesungguhnya aku berlindung kepadamu menjadi mustadraj, orang yang ditarik berangsur-angsur ke arah kebinasaan," ucap Kiyai Wahyun Mawardi, M.Pd, saat menyampaikan Khutbahnya di Masjid Fastabikhul Khairat, Jumat (5/07/2019).

Dalam treminologi syariat Islam menyebut istidraj adalah kesenangan. sebenarnya kedurhakaan dan dosa itu akan diberikan, tetapi diulur-ulur.

Allah Swt berfirman dalam surah al-qalam ayat 44-45 yang artinya, maka serahkanlah wahai Muhammd kepada ku orang-orang yang mendustakan perkataan ini, nanti kami akan menarik mereka berangsur-angsur dan kebinasaan dari arah yang tidak diketahui, dan aku memberi tangguh kepada mereka bahwa rencanaku sangat tangguh, dari surah yang lain Allah Swt berfirman, Dan orang-orang kafir terhadap ayat-ayat kami, nanti kami akan menarik secara berangsur-angsur ke arah kebinasaan.

Kiyai Wahyun menuturkan dari dua ayat diatas, Allah menyebut istidraj  adalah kesenangan dan nikmat yang Allah berikan kepada orang yang jauh darinya, yang sebenarnya itu adalah azab dan ujian baginya.

"Jika ada orang yang tidak pernah kena susah, jarang sembahyang, sering melakukan dosa dan maksiat, tetapi rezkinya lancar itu disebut istidraj," katanya.

Kemudian dari Ubair Bin Amar radhiyallahuanhu mengatakan apabila anda melihat Allah memberikan kenikmatan dunia kepada seorang hamba, sementara dia masih bergelimang dosa dan melakukan maksiat, maka itu hakekatnya adalah istidraj. lalu Rasulullah membacakan ayat 44 surah al-an'am yang artinya maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, kami pun membukakan pintu-pintu kesenangan kepada mereka, sehingga apa bila mereka bergembira dengan apa yang diberikan kepadanya itu, kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong kemudia mereka terdiam dan putus asa.

Hadits dan ayat diatas menggariskan sunnahtullah, ketentuan dalam kehidupan seorang yang berbuat dosa, terkadang Allah Swt membukakan pintu rezki, kesejahtraan hidup dan kemajuan segala aspek kehidupan.

"Kemajuan ini bisa kita maknai dan diartikan dalam bidang ekonomi, teknologi, militer, kesehatan dan kebudayaan, namun perlu waspada, jangan sampai kemajuan ini menjadi istidraj atau azab yang diulur-ulur oleh Allah," ujarnya.

Lebih lanjut, Kiyai Wahyun mengatakan ketika ada yang tidak sholat, tidak puasa ramadhan tetapi hidupnya makmur dan sejahtera maka ini tanda-tanda istidraj, ketika ada kelompok atau organisasi yang menghidupi warganya dengan uang haram kemudian tambah lebih maju semakin banyak pengikutnya, tetapi melupakan Allah ini termaksud istidraj. 

Jika seseorang meraih pangkat, jabatan dan kemenangan dengan cara zolim, menghalalkan segala cara sesungguhnya hal itu juga termaksud Istidraj. Demikian pula kalau negara yang kufur kepada Allah menghalalkan apa yang diharamkan oleh Allah, melegalkan beragam bentuk kemaksiatan, memerangi orang-orang yang mencintai Allah dan membatasi atau meghalangi aktifitas dakwah, sesungguhnya Negara dan bangsa itu bisa saja secara zohir tampak maju dari aspek kehidupannya, tetapi kemajuan itu tak lain adalah istidraj.


Reporter : Immawan Ilham 

Editor      : Admin Sulbarmu

Post a Comment

0 Comments