Quo Vadis Gerakan Mahasiswa, ( Catatan Untuk Pimpinan IMM Sulbar Periode 2018-2020)


Oleh : Furqan Mawardi, Dosen STIE Muhammadiyah Mamuju, Mahasiswa Program Doktor S3 Pendidikan Agama Islam di Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Sulbarmu.Com -- Setiap perubahan di negeri kita tercinta senantiasa arus utama palakunya adalah kalangan mahasiswa. Mulai zaman orde lama, orde baru, sampai era reformasi semua tercatat dalam tinta emas bahwa mahasiswa yang menjadi pejuangnya. Dari kalangan merekalah yang terdepan merobohkan dua tirani kekuasaan penguasa orde lama dan orde baru dikala itu. Dengan titel sabagai agent of change mereka tampil luar biasa dizamannya untuk menentang setiap potensi yang membahayakan nasib rakyat dan negara.

Ikatan Mahasiswa Muhamadiyah adalah salah satu gerakan mahasiswa Islam yang lahir karena tuntutan dizamannya yang banyak ikut andil dalam gerakan mahasiswa  yang menciptakan sejarah bangsa. Diusianya yang ke-55 tahun, tentu sudah benyak merasakan asam garam dalam segala perjuangan. Kedepan tentu akan menghadapi tantangan yang akan berbeda. Karena secara hukum alam, setiap kepemimpinan akan menghadapi tantangan dan masalah masing masing sesuai dengan zamannya. Perbedaannya hanya pada  sejauh mana tantangan itu di hadapi dan dengan metode seperti apa sehingga setiap permasalahan bisa teratasi dengan tanpa menimbulkan masalah yang baru.

Fenomena Generasi Tua dan Barisan Emak-emak

Akhir akhir ini kita sulit menemukan  lagi gerakan mahasiswa yang hadir dan lantang meneriakkan kebenaran dan kritis terhadap kebijakan  pemerintah yang tidak pro terhadap rakyat. Sepinya pemberitaan terkait aksi-aksi para mahasiswa yang lantang melakukan penolakan yang seperti seniornya terdahulu lakukan, ketika terjadi permaaslahan atau ancaman terhadap negara. Kita merindukan kembali gerakan arus mahasiswa seperti tahun 1965-1967,1974 dan 1998 yang dengan lantang melawan tirani dan mampu merobohkan kekuasaan presiden yang fenomenal berkat aksi aksi heroik mereka.

Para Mahasiswa di di zaman tersebut adalah para anak muda yang memimpin perubahan karena mereka memiliki satu persamaan dan perjungan yaitu penegakkan keadilan demi Indonesia yang lebih baik . Urusan perut mereka kesampingkan karena idealisme dan kesadaran menegakkan kedaulatan dan keadilan adalah segalanya.

Ironisnya saat ini Justru fenomena  yang muncul adalah hadirnya kembali kalangan orang tua yang terpanggil kembali untuk turun meneriakkan kebenaran melawan tirani. Fenomena ini  bisa terlihat dari beberapa tokoh nasional dan emak emak yang terpaksa  harus turun gunung  untuk kembali menjadi muda karena mahasiswa yang agak mandul membaca potensi ancaman terhadap negaranya.

Sebutlah tokoh Reformasi 1998 disana ada Amien Rais, mantan ketua Umum PB HMI 1978-1981 Abdullah Hehamahua. Serta dibarisan emak emak ada Neno Warisman  beserta barisan emak emak yang dulunya ketika mahasiswa menjadi barisan terdepan memperjuangkan kebenaran.

Fenomena generasi tua tampil ini tidak hanya di negeri kita Indonesia. Di Malaysia ada Mahathir Mohamad yang sudah berusia lebih dari 90 tahun justru tampil sebagi Presidin terpilih. Di Amerika Serikat ada Donald Trump yang sudah berusia 72 tahun.

Quo Vadis Gerakan IMM Sulbar?

Tidak bisa terbantahkan, bahwa para kader IMM telah memberikan bukti nyata dan sumbangsinya untuk negeri. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya alumni dan kader IMM yang bisa tampil dan menduduki posisi strategis di ranah pemerintahan baik pada level regional, nasional hingga internasional. Di Sulawesi Barat misalnya, mulai ketua KPU provinsi, Bawaslu Provinsi,  hingga kepala Ombudsman perwakilan Sulawesi Barat adalah para kader dan alumni terbaik Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah dizamannya.

IMM Sulawesi Barat pada pekan ini akan mengadakan pelantikan dan sekaligus rapat kerja menyusun program untuk dua tahun kedepan. Tentu kita mengharapkan dengan nahkoda baru yang dipimpin oleh  Immawan Arman bisa memberikan spirit baru untuk IMM Sulbar kedepan agar lebih baik.

Masa dua tahun adalah masa yang begitu singkat, membutuhkan pikiran pikiran visioner serta  gerakan yang berkemajuan untuk membawa kapal besar IMM yang kian hari makin diperhitungkan di Sulbar. 

Penulis sebagai kader dan alumni IMM tentu sangat merindukan gerakan IMM yang lebih progresif dengan senangtiasa cepat tanggap dalam hal kesenjangan dan ketidak adilan dalam bingkai amar makruf nahi munkar. 

Kita sangat merindukan kembalinya ruh IMM yang betul betul mahasiswa, yang tidak gampang tergoda hanya dengan imbalan yang remeh temeh yang justru memandulkan nilai nilai idealisme. 

Karena secara fakta itulah yang banyak terjadi di kalangan para aktifis mahasiswa saat ini. Kita tinggal  menunggu gerakan baru dari sang nahkoda baru, apakah IMM hanya menjadi gerakan yang pasif ditengah ketidakadilan dan penindasan, atau hanya planga plongo disetiap kebijakan pemerintah yang hanya menguntungkan kalangan elit, asing dan aseng, ataukah tampil terdepan menunjukkan taring sebagai sebuah gerakan mahasiswa yang menjadi penyelamat nasib rakyat dan bagsanya. Tentu waktulah yang akan menjawabnya.

Akhirnya selamat menjalankan amanah baru, IMM Jaya!  

Post a Comment

0 Comments