Membentuk Karakter Pemuda Dengan Budaya Literasi.

Oleh : Basir Wakil Ketua Pemuda Muhammadiyah Mamuju Sekaligus Kepala SMP Muhammadiyah Mamuju

Sulbarmu. Com -- Jika ingin mengenal dunia maka membacalah, tetapi jika ingin dikenal dunia maka menulislah. Itulah suatu kata-kata bijak yang dapat dijadikan semangat serta motivasi generasi bangsa sebagai implementasi untuk membumikan budaya literasi yang mulai terkikis di era milenial sekarang ini. Di abad ke 21 ini perkembangan zaman yang begitu cepat merupakan bentuk Kemajuan Perabadan manusia dari segala dimensi kehidupanya, perkembangan itu ditandai dengan kemajuan Ilmu Pengetahuan Tekhnologi dan Sains  yang merupakan jawaban bahwa pengembangan Ilmu adalah sebuah keharusan dalam memenuhi kebutuhan hidup manusia, kecanggihan tekhnologi alat komunikasi yang dulunya hanya sebagai kebutuhan tersier kini telah berubah status menjadi kebutuhan primer yang menjadi penting bagi penggunanya.

Menikmati Fasilitas media sosial sepeti Facebook, Whatshapp, Instgram, Telegram dan lain sebagianya adalah bukti nyata bahwa kehadiran tekhnologi dari waktu kewaktu mengalami transformasi dan inovasi. Namun seiring dengan hal itu disisi lain sebagian pemuda saat ini hanya menjadi bagian penikmat saja dan tidak memanfaatkan dengan baik alat digital yang sedang berkembang pesat. 

Diskursus publik dan budaya literasi dengan hadirnya Media sosial seharusnya dijadikan tempat untuk berkereasi dan berinovasi. Namun pada kenyataanx justru tempat curahan hati (status yang tidak bermanfaat), menyampaikan berita-berita hoax, tempat untuk memprovokasi dan mengadu domba kelompok satu dengan yang lainya yang pada akhirnya pemuda hari ini malas untuk berfikir melakukan kajian-kajian, diskusi yang dapat melahirkan dialektika serta tulisan-tulisan yang bermanfaat dalam bentuk wacana dan opini sehingga bisa mencerahkan masyarakat. 

Media sosial yang seharunya mampu menampilkan kemampuan literasi  untuk menghadirkan diskusi publik dan bacaan-bacaan yang memeberikan edukasi kepada pengiat tentu sangat disayangakan jika kehadiran media sosial  hanya diisi dengan status yang alay, baperan dan sentimen negatif pada orang lain yang menimbulkan kegaduhan berfikir.  

Sejatinya kehadiran media sosial membawa pada peningkatan kemampuan berfikir kritis dan logis. Karakter pemuda masa kini bisa diukur dengan indikator bahwa seberapa besar pemanfaatan media sosial untuk menyampaikan kebaikan lewat tulisan dan status yang bermutu dan berkulitas.  Jika budaya Literasi, diskusi, membaca dan menulis pada hal-hal yang berkulitas  sudah hilang maka itu salah satu tanda bahwa generasi muda kita mulai meninggalkan budaya literasi yang pada akhirnya membawa pada kejumudan atau (ketertinggalan).  

Kita pahami bersama bahwa generasi muda adalah aset bangsa yang akan menjadi pewaris estafet kepemimpinan dimasa yang akan datang. Prospek masa depan penggunaan media sosial sangat menguntungkan jika generasi muda mampu membaca peluang,  sebab kemajuan Tekhnologi akan terus berkembang secara cepat dengan melihat media sosia merupakan pasar yang menguntungkan bagi pemilik aplikasi.

Mobilisasi pemanfaatan media sosial harus kita gerakkan agar menjadi bagian terpenting untuk menyadarkan kepada generasi muda untuk kembali pada budaya literasi membaca dan menulis serta melakukan diskusi-diskusi lewat media sosial. Masa depan bagsa Indonesia berada di pundak generasi pelanjut saat ini, penggunaan tekhnolgi digital melalui media sosial harus secara serius dengan mengutamakan manfaatnya bukan malah mudaratnya bagi pengiat sosial media dalam menyebar informasi.

Pemuda saat ini merupakan aset bangsa dan negara tentu setiap informasi yang beredar terlebih dahulu di cek kebenarannya, melalui budaya literasi membaca dengan membuka ruang-ruang kajian dan diskusi agar tidak tersesat  sehingga dapat di giring pada kepentingan politik praktis, informasi hoax yang dapat menjerumuskan pada pertikaian dan konflik yang berkepanjangan.Pemuda melenial saat ini merupakan harapan yang mampu memberikan edukasi pencerahan kepada masyarakat, mampu tampil di tengah-tengah kesulitan bangsa dan negara dengan menghadirkan solusi dari karya hasil tulisan-tulisannya.


Penulis  : Basir Badul

Editor     : Immawan Ilham

Post a Comment

0 Comments