Tiga Amalan Kebaikan dapat Memperbaharui File yang Rusak.


SULBARMU.COM -- Sudah menjadi rutinitas ahad pekanan Majelis Tabliq Pimpinan Daerah Muhammadiyah Mamuju, menggelar kultum di Masjid Fastabiqul Khairat Pusat Dakwah Muhammadiyah di jalan sukarno-hatta. Namun khusus dibulan suci ramdhan ini pengajian atau kajian di laksanakan setiap hari setelah sholat subuh.

Dalam kesempatan ini, Kultum subuh ramadhan di bawakan oleh ustazd DR. dr. Hisbullah, sepesialis Anestesi, Konsultan Intensive Care, Konsultan Anestesi Kardiovaskuler, Majelis Pelayanan Kesehatan Umum (MPKU) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sulawesi Selatan, Minggu ( 26/05/2019 )

Hisbullah, mengatakan kedatangannya ke Mamuju dalam rangka dinas dari kantor, namun kemari ada panggilan wahtasap dari junior untuk bisa menyempatkan membawakan kultum di masjid fastabiqul khairat.

"Terus terang saya tidak biasa berdiri didepan umum untuk berceramah, saya biasa berdakwah di medsos bahkan akun saya di medsos itu ada dua belas, ini akibat kegiatan rutinitas sehari-hari saya  sebagai seorang dokter spesialis. Tetapi sebagai kader yang berada di perserikatan muhammadiyah itu sudah menjadi kosekuensi ketika berkunjung ke daerah-daerah," ujarnya.

Dalam ceramahnya, Dr. dr. Hisbullah menyampaikan keberadaan seseorang di dunia ini kata Allah itu siapa diantara kita yang paling bagus amalannya, dan amalan yang paling baik di sisi Allah itu adalah amalan yang pernah di peraktekkan oleh Rasulullah Muhammad SAW.

"Kita coba mengangkat ke hal yang sederhana, anak-anak ku yang sudah memasuki usia baliqh itu sudah mulai mengimput. Ada dua pengimputan berdasarkan memori kita, memori kebaikan dan memori keburukan, nantinya fail ini akan di buka diakhirat, tentu ada banyak kemungkinan  yang bisa terjadi, kemungkinan yang pertama failnya rusak tidak bisa terbaca, bisa juga tidak ada yang hilang, atau bisa juga failnya ada tetapi tidak terbaca datanya telah teralihkan," ucapnya.

Untuk kasus seperti ini, lanjut Hisbullah, setidaknya ada sepuluh catatan dalam hardits bisa rusak dan hilang, namun pada kesempatan ini hanya memberikan tiga hal. Pertama ketika kita melakukan perbuatan muysrik baik yang kecil maupun yang besar, kedua seseorang biasa mengambil suatu perantara, contohnya, melalui foto-foto atau suatu benda keramat yang diyakini bisa memberi manfaat kepada mereka, ketiga, seseorang masih meyakini ajaran agama selain agama islam, contohnya yaitu dengan ada selogan isme-isme dibelakannya yang dia sangat menyakini kebenarannya.

Kemudian seperti yang disebutkan diatas, failnya ada namun tidak bisa terbaca, ini hal secara tidak sadar sering dilakukan oleh seseorang, kebaikan yang selalu dilakukan itu bisa saja pahala kebaikan akan di ambil orang, sebeb hobinya selalu  ghibah terhadap saudaranya, memfitnah temannya, mencurigai kerabatnya, sehingga ketika seseorang itu tidak ridho dengan perbuatan yang kita lakukan maka semua amal kebaikan kita bisa di ambil orang yang pernah terzolimi atas perbuatan kita.

"Bahkan yang kecil suatu amalan yang selalu kita upayakan dan seharusnya ada nilai ples didalamnya bisa saja hilang, karena setiap perbuatan kita itu selalu ada ria didalmnya, tidak ikhlas dalam menjalankannya," Aku Hisbullah.

Kabar baiknya, Hisbullah mengatakan, ternyata apa bila pasword kita baik insyaAllah tidak akan hilang catatan amal kebaikan kita, ketika sudah meninggal dunia. Setidaknya ada tiga hal yang bisa membuka fail kita, pertama Amal jahiriyah, ilmu yang bermanfaat dan doa anak sholeh.

Untuk Amal jahiriyah, tentu seseorang sudah mengetahui, menyumbang ke tempat ibadah, lembaga pendidikan dan panti asuhan merupakan representatif dari amal jahiriah itu sendiri, namun perlu diketahui dalam konsep penggunaan fasilitas umum terkadang seseorang kurang sadar menggunakannya, contohnya lembaga pendidikan, masih banyak orang tua yang sangat kesulitan membayar biaya pendidikan untuk anak-anaknya, padahal ketika ditelusuri mereka dari kalangan yang mampu, begitu pula dengan tempat ibadah yakni Masjid, banyak masyarakat yang tidak sadar bahwa fasilitas publik yang digunakan dimasjid itu adalah milik jamaah, tentu butuh dana dan uluran tangan dari jamaah untuk menikmati fasilitas tempat ibadah yang disediakan.

"Saya tau kondisi seperti ini, sebab saya punya pondok pesantren tahfidz, kondisi seperti ini yang menyebabkan kita terhambat dan hanya jalan di tempat. Perkembangan zaman seiring akan bergeser konsep berkemajuan dalam arah muhammadiyah tentu harus kita bumikan, dalam segala aspek apa pun itu," tuturnya.

Hisbullah menambahkan, tentu harus ada timbal balik dengan kostribusi jamaah berikan kepada semua fasilitas publik, mulai dari kenyamannya  dalammenuntut ilmu, dan beribadah di masjid itu harus jamaah rasakan. Juga kebersihan dan keindahannya harus diperhatikan oleh pengurus maupun pengelola agar jamaah merasakan ketenangan dan kedamaian dalam beribadah. 


Penulis : Immawan Ilham

Post a Comment

0 Comments