Ramadhan Bulan Pengendalian Diri, Hindari Sifat Berlebih-Lebihan. Pesan Kiyai Wahyun Mawardi

Sulbarmu.Com --"Satu-satunya ibadah yang ganjarannya tanpa batasan itu adalah Puasa,  Ibadah Sholat, Zakat dan Haji semuanya itu ada hitung-hitungan pahala yang diberikan oleh Allah SWT," Hal itu di ucapkan Ketua Wilayah Muhammadiyah Sulawesi Barat sekaligus Direktur Muhammadiyah Bording School Pondok Pesantren Modern At-Tanwir Mamuju, Kiyai Wahyun Mawardi, S.Ag.,M.Pd. dalam ceramahnya di Masjid Al-Qalam At-Tanwir Mamuju, Senin malam ( 20/05/2019).

Ia menambahkan, Dari Abu Hurairah Ra,  berkata dalam Hadits Qudsi Rasulullah Muhammad SAW. bersabda, Telah berfirman Allah taala. Setiap amal anak cucu Adam itu untuk dirinya, dan ganjaran kebaikan itu dilipatgandakan sepuluh kali lipat sampai tujuh ratus kali lipat. 

"Hadits Qudsi itu firman Allah kalimatnya disampaikan oleh Rasulullah Muhammad SAW. Yang artinya amal kebaikan satu, dikali seratus dan dikali tujuh ratus. Juga Allah SWT berfirman dalam surah Al-Baqarah Ayat 261 artinya, perumpamaan orang-orang yang menafkahkan hartanya dijalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipatgandakan ganjaran bagi siapa yang ia kehendaki. Dan Allah maha luas karunianya lagi maha mengetahui (Q.S. Al-Baqarah : 261)," Jelasnya.

Menurut, Kiyai Wahyun Mawardi, setiap ibadah yang kita lakukan itu bisa berpotensi manusia akan ria dan semuanya mempunyai ciri-ciri yang terlihat dalam melaksanakan ibadah. Namun dalam ibadah puasa tidak ada yang bisa memberikan  gambaran bagaiaman ciri-ciri orang yang sedang berpuasa, oleh sebab itu ibadah puasa itu adalah ibadah siriyah atau rahasia, hanya dia yang tau dengan Tuhannya.

Kemudian, lanjutnya mengapa Allah mengatakan ibadah puasa ita adalah ibadah untuk ku, sebab Allah mengatakan manusia yang beriman meninggalkan keinginan untuk minum dan syahwatnya itu untuk Allah, 

"Hanya Ibadah puasa yang tidak bisa dicampuri oleh hawa nafsu, karena sasaran puasa itu bagaimana mengendalikan nafsu perut dan nafsu dibawah perut," Akunya.

Ia mengatakan, dalam hadits Rasulullah Muhammad SAW. Artinya barang siapa yang tidak mampu meninggalkan perbuatan dusta dan teman-temannya, maka Allah tidak butuh dia meninggalkan makan dan minum.

"ketika tengah hari dan lagi panas, dirumah ada kulkas dan didalamnya ada sirup ABC, adakah yang berani meminumnya, Jika tidak berani kenapa bisa. Sebab kita sedang berpuasa, itulah pendidikan puasa yang amat besar pengaruhnya, yang halal saja kita mampu meninggalkanya, apalagi yang haram," Ujarnya.

Terakhir Kiyai Wahyun Mawardi berpesan, ketika memasuki bulan syawal idul fitri, kadang manusia akan lupa dengan makna bulan suci ramdahan yang merupakan bulan pengendalian diri, termaksud mengendalikan dari sifat yang berlebih-lebihan.

"Kekeliruan kita bagi ummat islam, biasa kita di akhir bulan ramadhan memanfaatkan diri untuk borong pakaian, makanan dan yang lainnya, padahal kita tidak dituntut untuk mengunakan pakaian yang serba baru, namun kita dianjurkan yang bersih dan suci. Untuk itu masyarakat perlu kiranya mengendalikan diri dari sifat yang berlebih-lebihan," tutupnya.



Penulis  : Immawan Ilham

Post a Comment

0 Comments