Bolehkah Percaya Pada Kesialan?


REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Banyak mitos masih bertebaran tentang pembawa sial. Tak terkecuali di per kotaan. Pembawa sial dipercaya bisa berbentuk beragam hal. Mulai orang, barang, hingga angka tertentu. Misalnya saja, kita masih sering melihat banyak lift di pusat perbelanjaan atau hotel tidak mau menggunakan nomor tertentu untuk penanda lantainya. Si pengelola percaya jika menggunakan angka tersebut akan membawa sial. Karenanya, angka itu pun ditambah dengan huruf untuk mengganti angka yang dianggap mendatangkan kerugian.

Begitu pula dengan penanggalan. Sebagian masyarakat kita masih percaya ada tanggal baik dan tanggal buruk. Tanggal baik akan dipilih untuk waktu penyelenggaraan pernikahan, khitanan, dan acara besar lainnya. Sebalik nya, tanggal buruk akan dijauhi karena khawatir bisa mendatangkan malapetaka bagi acara yang diselenggarakan.

Orang bahkan bisa dicap sebagai pembawa sial. Syahdan, ada seorang wanita yang menikah dengan teman sekerjanya. Setelah berkeluarga, mereka pun kerap mengalami cobaan, seperti bencana, sakit, kerugian, dan kecelakaan. Kejadian buruk itu sudah terjadi sebelum keduanya menikah. Hanya, suami dan keluarganya berprasangka bahwa istri nyalah pembawa sial. Jiwa sang istri pun tertekan karena adanya prasangka tersebut.

Bila ditilik dari Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), sial artinya tidak mujur dan segala usa hanya selalu tidak berhasil (seperti sukar mendapat rezeki, sukar mendapat jodoh). Sesuatu yang dianggap membawa ketidakmujuran atau pertanda buruk pun dikatakan sebagai pembawa sial.

Mufti Agung al-Azhar, Mesir, Prof Dr Ali Jum'ah Muhammad, mengatakan, anggapan adanya pertanda buruk pada sesuatu ada lah salah satu tradisi kaum jahiliyah. Tradisi ini dihapuskan dan terlarang di dalam Islam.

Tak kurang, Firaun dan peng ikutnya pernah menuding Musa sebagai pembawa sial. Tudingan itu disampaikan saat Allah mencabut kebaikan berupa kesuburan, kelapangan, dan kesehatan. Saat itu, Mesir dilanda musim ke marau yang panjang. Paceklik ter jadi dan tumbuh-tumbuhan tak mau menghasilkan pangan.

Padahal, dahulu mereka hidup dalam kemakmuran. Firaun lantas menuduh musibah itu disebabkan Musa. Allah pun berfirman bahwa kesialan yang mereka alami merupakan ketetapan dari Allah. Sedangkan, banyak di an tara mereka yang tidak mengetahui (QS al-Araf [7] 130-131).

Pada zaman jahiliyah, masyarakat Makkah menganggap datangnya burung malam atau ka dang disebut burung hantu se bagai penanda sial. Sebagian orang berkeyakinan kalau ru mah nya didatangi burung tersebut, ada salah seorang dari peng huninya yang akan wafat.

Pada masa Rasulullah SAW hidup, ada sebagian orang yang berkeyakinan bahwa bulan Safar sebagai bulan kedua tahun Hijriyah ada lah bulan sial dan penuh bala. Aca ra bepergian serta aktivitas pun dibatalkan karena mitos ini.

Mitos juga terjadi bahwa pada Rabu terakhir di bulan Shafar, di turunkan 320 ribu bala. Bahkan, ada yang menyebarkan hadis pal su tentang bulan Shafar, yakni, "Barang siapa yang bergembira dengan keluarnya bulan Shafar, maka aku akan berikan kabar gem bira dengan surga."

Rasulullah memang pernah bersabda tentang adanya kesialan pada tiga hal. Hanya, hadis itu harus ditempatkan pada konteksnya. "Tidak ada penularan pe nyakit dan tidak ada ramalan sial, tapi terdapat kesialan pada tiga: kuda, perempuan, dan rumah." (Mut tafaq alaih). Dalam hadis ini, Rasulullah SAW menjelaskan bah wa maksud kesialan di sini adalah kesialan yang dapat mendatangkan permusuhan dan ben cana. Bukan anggapan sebagian orang yang meyakini bahwa ke tiga hal tersebut dapat membawa sial.

Ini terbukti dalam hadis lain nya yang diriwayatkan Sa'ad bin Abi Waqqash RA. Rasulullah SAW bersabda, "Tiga hal yang membuat bahagia: istri yang jika kamu lihat menyenangkanmu dan jika kamu tinggalkan, maka kamu merasa tenang atas dirinya dan hartamu, hewan tunggangan yang berjalan cepat sehingga dapat membawamu menyusul pa ra rekanmu dan rumah yang luas dengan banyak fasilitas. Dan, tiga hal yang termasuk kesusahan: Istri yang jika kamu lihat maka ia menjengkelkanmu, suka menjelekkanmu dengan mulutmu dan jika kamu tinggalkan kamu tidak tenang atas dirinya dan hartamu, hewan tunggangan yang lambat, jika kamu pukul maka ia akan me nurutimu, tapi jika kamu biar kan maka ia tidak akan membawamu menyusul para sahabatmu dan rumah yang sempit yang tidak mempunyai banyak fasilitas."

Saat ditanya tentang hari sial, Muktamar ke-3 Nahdlatul Ulama (NU) di Surabaya pun memilih pendapat yang tidak memboleh kan. Fatwa Muktamar NU pun memutuskan, "Barang siapa yang bertanya tentang hari sial dan se sudahnya maka tidak perlu di ja wab, melainkan dengan berpaling, menganggap bodoh tindak annya dan menjelaskan keburuk annya, dan menjelaskan bahwa semua itu merupakan kebiasaan orang Yahudi, bukan petunjuk bagi orang Islam yang bertawakal kepada penciptanya yang tidak pernah menggunakan hisab (perhitungan hari baik dan buruk)."

"Sedangkan, keterangan mengenai hari-hari apes dan sema camnya yang dinukil dari Ali karramallahu wajhah adalah batil dan merupakan suatu kebohong an yang tidak memiliki dasar. Ka rena itu, berhati-hatilah kalian dari hal-hal tersebut."

Dari penjelasan tersebut, da pat diketahui bahwa menganggap sesuatu mendatangkan kesialan adalah dilarang dalam syariat Islam. Karena, segala sesuatu berjalan sesuai dengan kekuasaan Allah. Nomor, barang, atau istri seseorang tidak mungkin mendatangkan kebaikan atau keburukan bagi seseorang. Wallahu a'lam.

Sumber : https://khazanah.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-nusantara/pqo20t313/bolehkah-percaya-pada-kesialan

Post a Comment

0 Comments