Memahami Makna Qur'an, Kitab Dan Arti Taqwa : Tafsir At-Tanwir Oleh Kyai Wahyun Mawardi

Foto : Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sulbar, Kyai Wahyun Mawardi, Saat Membawakan Pengajian Ahad Subuh, di Masjid Fastabikhul Khairat, Minggu 12 Januari 2020.


SULBARMU.COM, MAMUJU.-- Pengajian rutin Ahad Subuh di Masjid Fastabikhul Khairat Pusat Dakwah Islam Muhammadiyah (Pusdim) membahas Materi Tafsir At-tanwir Surah (Al-Baqarah :2) Makna kata Quran, Kitab dan arti Taqwa, Minggu (12/01/2020).

Pengajian yang menjadi Program Majelis Tabligh Pimpinan Daerah Muhmamadiyah (PDM) Mamuju, kali ini dibawakan Kyai Wahyun Mawardi, selaku Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sulawesi Barat.

Dalam Kajiannya Ia menjelaskan mengapa kata Al-Qur'an dan Al-kitab dalam bahasa arab berbeda dari segi penggunaan kata tunjuknya, ketika menyebut Al-quran menggunakan kata tunjuk dekat, tetapi apa bila menyebut kata kitab dengan kata tunjuk jauh. Menurutnya Al-Qur'an itu adalah sebuah nama, nanti ketika dibaca maka ia dekat, ketika tidak dibaca ia jauh.

"Makanya makna Al-Qur'an itu adalah yang dibaca, nanti disebut Al-Qur'an saat dibaca, kalau tidak dibaca itu adalah kertas. Olehnya itu Al-Qur'an diserap dalam bahasa Indonesia menjadi koran, kalau koran tidak dibaca akan menjadi pembungkus kacang, jadi jika dirumahnya ada Al-Qur'an lalu tidak dibaca sudah kita tau artinya," ujar Kyai Wahyun.

Kemudian arti taqwa, Kyai Wahyun menjelaskan taqwa itu adalah menghindari atau waspada, orang yang bertaqwa itu orang menghindar dan takut kepada Allah, bukan takut sehingga ia menjauh. Takut untuk tidak melaksanakan perintahnya dan takut melaksanakan larangannya.

Menghindar atau takut ada tiga tingkatan, pertama menghindar dari kekufuran dengan jalan beriman kepada Allah, Kedua berupaya melaksanakan perintah Allah sesuai kemampuan dan ketiga ini yang paling tinggi, menghindar dari segala aktifitas yang menjauhkan pikiran dari Allah Swt.

Taqwa bukanlah sesunghuhnya maqom (kedudukan) yang tertinggi, tetapi taqwa itu ada tingkatan-tingkatannya, orang yang melakukan kesalahan itu masih bisa disebut taqwa, sebab taqwa bukanlah suatu tingkat dari ketaatan kepada Allah Swt, tetapi dia adalah penamaan bagi setiap orang yang beriman dan mengamalkan amal sholeh. Seseorang yang mencapai puncak ketaatan adalah orang yang bertaqwa yang menjadikan segala aktifitas hidup dan pikirannya untuk senantiasa dekat dengan Allah.

"Tetapi yang belum mencapai puncak ketaatan pun itu dapat juga dinamai orang yang bertaqwa. Jadi orang yg sama sekali belum luput dari dosa itu juga masih disebut orang yg bertaqwa, selama masih punya keinginan untuk selalu berhati-hati," tutur Kyai Wahyun.

Lebih lanjut Kyai Wahyun Menerangkan taqwa itu merupakan kehati-hatian, jangan sampai dalam jalannya tertusuk duri, tetapi jika sudah berhati-hati namun juga masih tertusuk, bukan berarti tidak bertaqwa karena sudah berhati-hati, sebab anak cucu Adam pasti pernah melakukan kesalahan dan dosa. Kecuali tidak ada upaya untuk menghindar dari kesalahan maka itu tidak bisa lagi dikatakan bertaqwa.






Editor. : Admin Sulbarmu.com

Posting Komentar

0 Komentar